THELOCAL.ID, MAKASSAR — Upaya memperkuat dukungan terhadap masyarakat yang menghadapi persoalan kesehatan mental dan krisis psikologis mulai digencarkan di Kota Makassar.
Indonesia Sehat Jiwa (ISJ) dari Yayasan Mahargijono Schützenberger Indonesia menggandeng Satuan Brigade Mobil (Satbrimob) Polda Sulawesi Selatan menghadirkan pusat layanan kesehatan mental dan pencegahan bunuh diri di Makassar.
Kolaborasi tersebut ditandai dengan pembukaan layanan konseling gratis Pojok Curhat di Klinik Teratai Satbrimob Polda Sulsel.
Program tersebut juga dirangkaikan dengan psikoedukasi anti-perundungan atau bullying, pelantikan *Peer Buddy* sebagai Duta Anti-Bullying di kalangan pelajar SD, SMP dan SMA, serta kampanye edukasi publik mengenai kesehatan mental.
Tak hanya menyasar masyarakat umum, kolaborasi ini juga mendorong pembentukan Peer Brimob, yakni dukungan sebaya di lingkungan Satbrimob Polda Sulsel yang diarahkan untuk memberikan pendampingan dan konseling dasar kepada masyarakat.
Layanan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat, termasuk anak-anak dan orang dewasa yang berada di wilayah terdampak bencana, melalui kegiatan Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial (DKJPS) atau *trauma healing*.
Beban Persoalan Kesehatan Mental
Urgensi penguatan layanan kesehatan mental di Makassar tidak terlepas dari kompleksitas persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.
Data yang pernah tercatat di RSKD Dadi Provinsi Sulawesi Selatan menunjukkan sebanyak 13.292 pasien menjalani perawatan terkait gangguan jiwa pada 2018. Angka tersebut merupakan data pelayanan pada periode tersebut dan bukan angka terbaru jumlah pasien gangguan jiwa di Sulawesi Selatan.
Sementara itu, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kota Makassar mencatat 1.222 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak sepanjang 2025.
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan 2024 yang tercatat 520 kasus. Namun, peningkatan itu tidak serta-merta berarti seluruh kekerasan meningkat sebesar angka tersebut karena pada 2025 sumber data berasal dari tiga unit layanan, yakni UPTD PPA, Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga), dan Shelter Warga.
Dari 1.222 kasus tersebut, sebanyak 762 merupakan korban anak atau sekitar 62 persen, sedangkan korban dewasa mencapai 460 kasus atau 38 persen. Kasus yang ditangani antara lain kekerasan terhadap anak, kekerasan terhadap perempuan, kekerasan dalam rumah tangga, hingga anak berhadapan dengan hukum.
Persoalan kesehatan mental juga berkaitan dengan tantangan pencegahan bunuh diri. Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Yurika Fauzia Wardhani, sebelumnya mengungkap terdapat 2.112 kasus bunuh diri di Indonesia sepanjang 2012–2023.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 985 kasus atau sekitar 46,63 persen melibatkan kelompok remaja.
ISJ Dorong Ruang Aman Tanpa Stigma
Ketua Indonesia Sehat Jiwa, Sofia Ambarini, mengatakan persoalan kesehatan mental tidak dapat ditangani hanya oleh tenaga kesehatan profesional.
Menurutnya, diperlukan keterlibatan berbagai unsur masyarakat agar orang yang sedang menghadapi tekanan psikologis memiliki ruang yang aman untuk bercerita dan mendapatkan pendampingan awal.
“Permasalahan kesehatan mental dan tingginya risiko bunuh diri tidak dapat kita selesaikan secara terisolasi. Mengandalkan tenaga medis profesional saja tidak cukup untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat,” ujar Sofia Ambarini.
Ia mengatakan kehadiran ISJ bersama Satbrimob Polda Sulsel merupakan bentuk kolaborasi untuk memperluas akses dukungan kesehatan mental sekaligus mengurangi stigma di masyarakat.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap individu yang sedang mengalami krisis emosional memiliki ruang aman untuk didengar dan didampingi,” katanya.
Pojok Curhat Jadi Ruang Pertolongan Awal
Layanan Pojok Curhat dirancang sebagai ruang pertolongan pertama psikologis atau Psychological First Aid yang mudah diakses masyarakat.
Layanan ini menyasar berbagai kelompok, mulai dari remaja, mahasiswa hingga orang dewasa yang menghadapi persoalan seperti tekanan akademik, konflik keluarga, perundungan, kecemasan maupun kondisi krisis emosional.
Layanan Pojok Curhat juga dikembangkan melalui pendekatan tatap muka dan layanan digital sehingga masyarakat memiliki pilihan untuk memperoleh dukungan sesuai kebutuhannya.
Kehadiran layanan tersebut diharapkan menjadi langkah awal sebelum seseorang mendapatkan penanganan lebih lanjut dari tenaga profesional apabila kondisi yang dihadapi membutuhkan intervensi khusus.
Program Berkelanjutan
ISJ bersama Satbrimob Polda Sulsel juga menyiapkan sejumlah program lanjutan di Makassar.
Di antaranya program **Peer Buddy dan Anak Hebat** yang berfokus pada edukasi anti-bullying, penggunaan gawai secara bijak serta edukasi dasar mengenai kesehatan dan perlindungan anak.
Selain itu, terdapat program pelatihan *Peer Support* untuk membentuk Duta Curhat Teman Sebaya di lingkungan sekolah dan komunitas.
Program lainnya adalah penguatan layanan pendampingan bagi masyarakat yang menghadapi situasi krisis.
Melalui rangkaian program tersebut, ISJ mengajak pemerintah daerah, sekolah, perguruan tinggi, komunitas, organisasi kepemudaan, media dan masyarakat untuk bersama-sama membangun lingkungan yang lebih peduli terhadap kesehatan jiwa.
Pesan yang ingin dibangun sederhana: persoalan kesehatan mental tidak seharusnya dihadapi seorang diri.
Masyarakat yang membutuhkan informasi mengenai layanan Pojok Curhat, agenda kampanye maupun peluang kolaborasi dapat mengakses kanal resmi Indonesia Sehat Jiwa melalui **indonesiasehatjiwa.com** dan Instagram **@indonesiasehatjiwa**. (*)