LUKISAN SRI MULYANI
Armin Mustamin Toputiri
Sehari pasca kediamannya dijarah massa, Sri Mulyani Indrawati (SMI) muncul di akun IG, berkeluh.
Meski seisi rumah nyaris ludes, tetapi yang ia sesali, jauh dari ekspektasi dibayangkan publik. Ia meradang, akibat sebilah lukisan ia kerjakan 14 tahun lalu, pula ikut dijarah.
***
SMI, kesal. Tak main-main, tanggung kursi Menkeu ia duduki di kabinet Merah Putih — diincar tak sedikit orang – dilarung untuk dilepas, “mempertaruhkan” lukisannya.
“Bocor-Halus” TEMPO, mencium aroma itu. Minggu larut malam kediamannya dijarah. Paginya, bergegas ke Hambalang. Sehelai kertas ia sodor ke Prabowo, minta mundur. Pagi ditolak, sore di istana negara, surat itu sekali lagi disodor. Sama, tetap ditolak.
Prabowo tak sudi. SMI tak boleh hengkang dari kabinet. Dia sosok ekonom, teknokrat disukai pasar. Jika dia pergi, pasar diyakini ikut menjauh. Lebih lagi, saat sama, fiskal dan perekonomian negeri ini, lagi gonjang ganjing. Pertumbuhan ekonomi seret, rasio PDB dan belanja defisit, perlunasan utang pun di ambang batas toleransi.
***
SMI memang bukanlah sosok sembarangan. Kiprahnya diapresiasi lembaga bergengsi dunia. Di sidang tahunan Bank Dunia dan IMF di Singapura, oleh “Emerging Markets” mendaulat SMI Menkeu Terbaik Asia 2006. 2007, Majalah Globe Asia mendaulat SMI Wanita Paling Berpengaruh ke-2 di republik ini. Di 2008, majalah Forbes mengklaimnya Wanita Paling Berpengaruh ke-23 di dunia.
Hebat, SMI mencuat era awal reformasi. Ia Kepala LPEM FE-UI, kerap kali tampil di tivi, merumus kalkulasi perekonomian Indonesia mutakhir. Presiden SBY takjub, ia mengajak SMI ikutan masuk kabinet. Di awal Kepala Bappenas, kelak Menkeu, juga plt Menko Perekonomian.
SMI lalu terbang ke Washington, dia orang Indonesia pertama duduk di kursi Direktur Pelaksana Bank Dunia. Dia balik ke tanah air, gegara Presiden Jokowi mengajak kembali jadi Menkeu. Prabowo terpilih, SMI lanjut tak beranjak dari kursinya, bendahara negara.
***
Kiprahnya mengagumkan. Tetapi ironisnya, kenapa kediaman – satu-satunya anggota kabinet Merah Putih – dijarah massa? Akh, anomali, SMI sekira punya salah apa?
Sesederhananya, jika mau dibilang. Sekira itulah konsokuensi mesti ia hadapi selaku bendahara negara. Di tengah Kaum Oligan “berselingkuh” penguasa, Sri Mulyani mesti pontang panting mendulang sumber mata pendapatan negara. Sekalian, belajaannya diramu demi efisiensi dan efektifitas.
Koleganya di kabinet, diminta semua lahan mesti produktif. Jika tidak “direbut” negara. Rekening “dormant”, blokir. Berharap uang keluar, bergulir mendongkrat pertumbuhan ekonomi. Dana bantuan daerah dipangkas. Diminta efisien, carilah pendapatan sendiri. Paling banter, naikkan PBB. Asset dimiliki daerah, mesti berpendapatan.
Cukai rokok dilonjak tetapi hasilnya minim, akibat ragam rokok (non-cukai) ikut masuk merecoki pasar. Beralih jajanan rakyat pun ikut dipalak. SMI toleran naiknya tunjangan perumahan DPR. Sebaliknya, kala gaji dan tunjangan guru dinaikkan,SMI sinis menilai membebani APBN. Gliran tiba, SMI disorot sinis oleh publik. Kediamannya dijarah
***
Sekira segenting apa lukisan, kasat mata terlihat tak dikerja profesional itu? “Lukisan Bunga itu telah raib, lenyap seperti lenyapnya rasa aman, rasa kepastian hukum dan rasa perikemanusiaan yang adil dan beradab di bumi Indonesia,” tulis SMI di akun IG pribadinya,
Kalimatnya berbalut majaz. SMI memilih kelompok kata metafora. Jika mau ditarjih, konteksnya dalam. Ia bertolak dari sehelai lukisan bunga karyanya, bukan pada indah tak indahnya, baik-buruknya, secuil publik makhfum lukisan semata hiasan dinding.
SMI mempertotonkan, jika makna lukisan jauh lebih dari itu. Punya jiwa, hasrat dan imajinasinya sendiri. Universal menyimpan persona yang tak terbebas oleh ruang dan waktu. Lukisan bunga itu, andai tak dijarah, harusnya mewujud legacy, kelak mewaris ke anak cucu SMI. Ex-Menkeu berkali-kali.
Syahdan, dapat dipermaklumkan jikalau SMI bertaruh “value” pada lukisan goresannya, dibanding material kedudukannya. Lukisan itu, maharnya tinggi. Tak semata “value” di baliknya, historinya dijarah. Jauh lebih dari itu, pelukisnya di 2008 tercatat, dia Wanita Paling Berpengaruh ke-23 di dunia.
Makassar, 9 September 2025
#srimulyani #menkeuri #kabinetmerahputih